Snippet


Rangkuman Boeah fikiran kijai H.A. Dachlan
RESENSI BUKU:
Pancasila Dalam Pemikiran Kijai H.A. Dahlan Dan Muhammadiyah
Oleh: Irfan Rahmat Ramadhan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 
Program Studi: Komunikasi 
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta


Judul                     : Boeah Fikiran Kijai H.A.Dachlan
Penulis                   : Abdul Munir Mulkhan
Penerbit                 : Global Base Review & STIEAD Press
Kota Terbit            : Yogyakarta
Tahun Terbit          : Juli 2015
Cetakan                 : Ke-1
Deskripsi Fisik      : 208 hlm.
ISBN                     : 987-602-71457-2-6

Orientasi umum program dan kegianatan  persyarikatan terlihat pada pembelaan pada kaum tertindas dan pencerdasan semua lapisan umat melalui gerakan pendidikan (sebagai saat ini dikenal dengan nomen klatur dakwah dan takblig). Pembelaan kaum tertindas dan pencerdasan tersebut didasari suatu tata nilai yang di sebut dr. soetomo sebagai cinta kasih yang dalam suatu terbitan lain disebut welas asih. Dari sini saya menggunakan nomen klatur ini dengan menambahi etika di deoanya sehingga menjadi “etika welas asih”. Etika welas asih disini menurut saya sangat menggabarkan sila ke dua dan ke lima, pembelaan kaum tertindas pada etika welas asih sangat menggambarkan  sila Kedua “Kemanusiaan  Yang Adil Dan Beradab” yg menggambarkan tentang  kemanusiaan dan keadialan dan pencerdasan semua lapisan umat pada etika welas asih menggambarkan sila ke empat “Keadilan Sosial Pada Seluruh Rakyat Indonesia” yg menggambarkan keadilan sosial termasuk dengen pendidikan dan pencerdasan.

Tradisi sosio-ritual adalah transparasi public terhadap praktek sedekah, infaq dan zakat bagi kepentingan publik, membangun sekolah, tempat ibadah panti asuhan  dan amal sosial lainya. Tradisi yg diplopori kiai dahlan demikian itu sulit ditemukan dibangsa-bangsa muslim lainya. Seluruh pembangunan tempat ibadah, panti asuhan, hingga sekolah hamper-hampir seluruhnya merupakan hasil keotong-royongan publik umat. Tradisi sosio–ritual ini menurut saya menggambarkan sila ke tiga yaitu “Persatuan Indonesia” yg menunjukan tentang persatuan, kegotong-royongan publik umat dalam membangun tempat ibadah, panti asuhan, dan sekolah-sekolah lewat partispasi publik dalam praktek sedekah, infaq, dan zakat, denga semua itu sangat  menggambarkan “Persatuan Indonesia” yaitu sila ke tiga.

 Ditengah praktik hidup hedonis dan korupp elite negri ini, penting penting dibaca ulang etos gerakan pembaruan di awal gerakan muhammadiyah didirikan kiai Ahmad Dahlan. Hal itu merupakan hasil penafsiran ulang ajaran yg selama ini dipahami public bagi gerakan pemberdayaan umat sehingga bebas penderitaan akibat kemiskinan, ketertindasan dan kepanyakita. Pengelolaan ibadah yang bersifat publik irasionalisasi bagi bagi fungsi sosial, ekonomi, dan budaya. Sekurangnya, menempatkan seseorang pada posisi bermartabat atau ngewongke (memanusiakan orang). Adalah revolusi mental ketika para  ndoro dan priyayi (ingat, kiai Dahlan adalah seorang abdi dalem, haynya beberapa biji se-nusantara) menyediakan diri berbagai harta bagi wong cilik. Dalam bagian ini menggambarkan pada sila ke empat yaitu “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan” yg menggambarkan tentang kerakyatan yg dipimpin dengan hikmat kebijaksaaan dalam permusyawaratan atau perwakilan , ketika menempatakan seseorang bermatabat atau ngewongke para  ndoro dan priyayi menyediakan diri berbagai harta bagi wong cilik, disini sangat menggambarkan sikap hikmat bijak dalam permusyawaratan atau perwakilan oleh para orang-orang pada posisi bermartabat atau ngewongke, ndoro, dan priayi oleh para wong cilik.


Muhammadiyah melalui dan dalam gagasan pendirinya, merupakan suatu praktik kesalehan kemanusiaan yang bersumber dari tafsir atas ajatan islam tentang kehiduapan duniawi. Islam sepanjang pemahaman kiai Ahmad Dahlan bukanlah semata-mata ajaran tentang hidup sesudah kematian, tetapi pengabdian manusia kepada sang penciptanya melalui berbagai aksi kemasnusian. Disini menggambarkan tentang sila yg pertama yaitu adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa” yg nunjukan tentang ketuhanan seorang manusia kepada tuhanya yg maha esa ,  kemanusiaan yang bersumber dari tafsir atas ajatan islam tentang kehiduapan duniawi dan Islam sepanjang pemahaman kiai Ahmad Dahlan bukanlah semata-mata ajaran tentan hidup sesudah kematian, tetapi pengabdian manusia kepada sang penciptanya melalui berbagai aksi kemasnusian, disitu lah point mengapa manusia harus memiliki ketuhanan kepada tuhan yg maha esa, karna tuhan dan agama terutama islam mengajarkan tentang kehiduapan duniawi dan bukanlah semata-mata ajaran tentang hidup setelah kematian, tapi juga tentang pengabdian manusia kepada sang pencipta melalui aksi kemanusiaan.